BATAM – Pembukaan Kongres PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang dihelat di Temenggung Abdul Jamal, Mukakuning, Batam kemarin (17/3) sempat ricuh. Itu terjadi ketika Menko Kesra Aburizal Bakrie memasuki arena kongres. Dia mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Ketika menyampaikan sambutan, Ical (panggilan akrab Aburizal) bahkan diminta keluar dari arena kongres. Mereka yang berteriak mengusir Ical adalah peserta dari PKC PMII Jawa Timur dan Ampera (Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Korban Lumpur Lapindo). Mereka memprotes Ical karena dianggap ikut bertanggung jawab atas penanganan korban lumpur Lapindo yang sampai sekarang belum tuntas.
Tanda-tanda aksi protes dari sekelompok mahasiswa itu terlihat sejak Ical memasuki ruang kongres sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu dia disambut teriakan “huuu” sebagian mahasiswa dari PKC PMII Jatim dan Ampera.
Namun, aksi tersebut tak mempengaruhi Ical. Suasana kongres kian memanas ketika Ical memberikan sambutan. Teriakan riuh sebagian peserta PMII kian lantang. Beberapa di antaranya berdiri sambil mengacung-acungkan tangan lalu mengucapkan kata “Lapindo”.
Suasana pun berubah gaduh. Tapi, Ical cuek saja. Ia tetap berbicara di depan ratusan peserta. Saat itu delegasi dari PKC PMII Jatim yang dipimpin Ketua Umum Badrut Tamam bersama mahasiswa yang tergabung dalam Ampera tiba-tiba keluar ruangan.
Mereka terus meneriakkan protes ke Ical sambil menuju ke pintu keluar. Suasana gaduh itu tak memengaruhi sejumlah tamu yang hadir. Mereka antara lain Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Muhamad Lukman Edy, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, Legislator PKB Ali Masykur Moesa, Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, Kapolda Kepri Brigjen Pol Sutarman, dan Wali Kota Ahmad Dahlan. Mereka tetap duduk tenang. Begitu pula Ical, dia tetap menyampaikan sambutan.
Sejumlah aparat kepolisian turun tangan. Mereka mengikuti langkah para mahasiswa yang keluar ruangan itu.
Di luar gedung, delegasi dari PMII Jawa Timur berunjuk rasa. “Usir Abu Bakri! Dia tak layak ada dalam forum itu,” teriak mereka.
Badrut Tamam yang ditemui Batam Pos (Grup Jawa Pos) kemarin mengatakan, sikap yang diambil tersebut merupakan suara para korban lumpur Lapindo. “Rakyat sudah cukup menderita dengan lumpur Lapindo,” katanya.


Recent Comments