Kisah Pilu Warga Yang Desanya Diterjang Banjir

21 03 2008

Perabot Rumah dan Gabah yang baru Dipanen Hanyut Terbawa Air
Banjir kembali melanda sejumlah wilayah Madiun dan sekitarnya. Di antaranya Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun dan Kwadungan Ngawi. Tak hanya menggenangi rumah, luapan air juga menganyutkan sebagian harta benda milik warga.


Sisa-sisa lumpur masih menempel di jalan Dusun Blondo, Desa Mojorayung, Wungu, Kabupaten Madiun, siang kemarin. Kasur, meja, kursi, televisi, dan gabah tampak berserakan di halaman rumah warga. Sementara pohon-pohon bambu di pinggir kali yang melintasi desa itu penuh kotoran yang menempel.

Di beberapa rumah, warga terlihat sedang bersih-bersih dengan sapu lidi dan seember air. Tak terkecuali Sunarto yang bangunan dapur dan kandang ternak rusak diterjang aliran sungai yang deras. “Semua hanyut, bahkan genteng dan dan kayu untuk bangunan juga hilang,” ujar Sunarto, setelah meletakkan sapu lidi yang digunakan membersihkan bagian rumahnya yang tidak roboh.

Diceritakan, air datang dengan sekejap sekitar pukul 18.30. Waktu itu, lanjutnya, dia sedang berada di dalam rumah bersama dua orang anaknya. “Lalu, mendengar suara gemuruh dari bagian dapur, terus saya lihat ternyata sudah roboh.,” jelasnya.

Kendati bagian rumahnya ada yang roboh dan air mulai masuk ke dalam rumah, dia tetap bertahan di dalam. Pasalnya, di luar air jauh lebih besar. “Untung saja bagian ruang tamu yang saya tempati bersama anak-anak tidak roboh,” ungkapnya.

Setelah, banjir mulai surut, dia berinisiatif mengungsikan anaknya ke tempat bibinya di luar desa yang tidak terkena banjir. “Setelah mengantar anak-anak saya kembali ke rumah untuk melihat bangunannya,” ujarnya didampingi Anisa Widyaningrum dan Niko Kristanto anaknya.

Yang menyedihkan lagi, banyak harta benda miliknya yang ikut hanyut terbawa arus banjir. Mulai dari kompor, bahan makanan, alat masak, hingga balok kayu jati. “Kayu-kayu itu, simpanan saya selama ini. Bila nanti ada rezeki akan dipakai untuk memperbaiki rumah, tapi sudah hilang,” katanya sedih.

Nasib serupa dialami Wardoyo, 55, kakak ipar Sunarto. Bahkan, 3 ton gabah yang baru dipanennya hanyut terbawa aliran air yang sangat deras. “Oalah…lagi wae dipanen digondol banyu (baru saja dipanen diseret banjir, Red),” ungkapnya seolah tak percaya dengan musibah yang dihadipinya.

Kisah sedih akibat banjir juga dialami ratusan warga Kecamatan Kwadungan, Ngawi. Tak hanya menggenangi rumah, banjir kali ini membawa dampak lain bagi keluarga kurang mampu yang menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

Ratusan warga Kwadungan di daerah yang kebanjiran kemarin batal menerima dana bantuan tersebut karena kantor pos tak dapat melayani akibat terkepung banjir.

“Saya menerima Rp 400 ribu namun belum bisa dilayani karena banjir,” kata Paniyem, warga Simo saat akan pulang ke rumah dari kantor pos.

Nasib seperti Paniyem ini juga dialami puluhan warga lain yang akan mencairkan dana PKH di kantor pos kecamatan Kwadungan. Banjir kemarin juga memutuskan jalan antara Simo-Sumengko-Purwosari. Saat berangkat, ketinggian air masih bisa mereka tembus tanpa membasahi baju. Namun, sekitar pukul 09.00 air mencapai lutut orang dewasa, sehingga banyak warga yang terjebak dan kebingungan pulang ke kampungnya. Warga yang tidak membawa kendaraan nekat menembus dengan jalan kaki, namun yang memiliki motor terpaksa menitipkan motornya atau menunggu hingga banjir surut.

Masih beruntung ada bantuan mobil patroli Polsek Kwadungan. Kapolsek Kwadungan AKP Suprayogi mengaku berinisiatif mengangkut warga yang kesulitan pulang dari kantor pos ke desa mereka, utamanya yang tujuan ke Desa Simo.

Rata-rata penerima dana PKH ini kaum ibu dan membawa serta anak mereka.

Walaupun warga harus berdesakan dalam kijang patroli, warga mengaku masih bersyukur. Sebab, ketinggian air makin mengkhawatirkan, apalagi sebagian membawa balita. “Kami sudah tiga kali bolak-balik angkut warga, ada juga perahu karet namun belum diterjunkan,” ujar AKP Suprayogi mendampingi Kapolres AKBP Edy S Tambunan.


Actions

Information

Leave a comment